“Bojo”, kita (orang jawa) pasti kenal istilah ini. (iyalah, itukan sebutan bahasa Jawa buat istri) Eits… tapi ternyata “bojo” di zaman sekarang ini tidak cuma Istri lho!

Di zaman yang sudah terlalu bebas ini, ternyata remaja semakin berani untuk berinovasi. Tidak saja inovasi dalam kebaikan saja, dalam hal buruk (pacaran) pun sudah demikian majunya. Berbagai gaya hidup dan pergaulan yang semakin bebas membuat kontrol terhadap remaja ini semakin longgar.

Meskipun aku sendiri juga pelajar, tapi aku tidak akan ikut-ikutan mereka. Aku tidak akan pacaran karena memang banyak ruginya daripada untungnya. Lagian, pacaran (maksiat) itu kan dilarang Agama. Jatuh cinta memang boleh, karena itu sudah jadi ketetapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi, janganlah kita melanggar larangan Tuhan, apalagi seperti yang terjadi selama ini sungguh mengerikan!!!

Kawan, apa jadinya kalau seseorang yang belum nikah dan belum ada ikatan apa-apa selain cuma kata I Love You sudah menyebut lawan jenisnya dengan sebutan “bojo”? Fenomena inilah yang kini banyak terjadi. Mereka memberikan istilah kepada pacarnya dengan istilah “bojo”.

Kalau sudah begini lalu apa bedanya antara nikah atau belum? Apa kita mulai tidak menghargai arti pernikahan? Apa kita menganggap Pernikahan sebagai suatu formalitas biasa? Atau mungkin sudah tidak mengindahkan norma-norma Sosial dan Agama? Naudzubillah min Dzaalik.