Membuat Pondasi Rumah 2 Lantai dengan Batako

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ini adalah video dokumentasi pertama yang Insya Allah akan saya upload di channel YouTube pribadi saya.

Tujuan awal kenapa saya kepikiran bikin video, karena saya butuh untuk mendokumentasikan ini.

Kondisi Lahan Sebelum Dikerjakan
Kondisi Lahan Sebelum Dikerjakan

Jadi sekarang saya sedang melanjutkan pembangunan rumah tinggal atau rumah pribadi yang sudah sempat terbengkalai selama sekitar 3 tahun.

Pondasi rumah ini saya bangun pada tahun 2016, kemudian setelah menikah di tahun 2017, saya sempat mengalami kebangkrutan dalam bisnis.

Dulu saya itu seorang distributor produk-produk handmade dari Cimahi dari Bandung. Ada belasan brand handmade yang cukup laris pada waktu itu.

Kemudian sejak masuknya produk-produk KW yang masuk melalui Batam, penjualan produk-produk lokal itu jadi menurun.

Mengakibatkan banyak sekali produsen-produsen brand tidak bisa bertahan, termasuk para distributornya seperti saya.

Akhirnya usaha pada waktu itu terus menurun, dari yang sebelumnya kita bisa mempekerjakan hampir dua puluhan orang karyawan sampai akhirnya satu persatu harus habis tidak tersisa.

Pada waktu itu kita juga harus menghentikan proses pembangunan rumah ini.

Alhamdulillah setelah 3 tahun, Allah memberikan jalan rezeki baru untuk saya, masih di bidang yang sama yaitu Digital Marketing. Sehingga bisa melanjutkan pembangunan ini.

Ini penampakan pondasi setelah setelah terbengkalai 3 tahun. Sejak tahun 2017 pada waktu itu harus berhenti dan di 2020 ini baru dilanjutkan.

Pondasi Batako Rumah Terbengkalai
Pondasi Batako 3 Tahun Terbengkalai

Sudah banyak karat di besinya.

Di awal pembangunan rumah ini, saya hanya punya dokumentasi dalam bentuk foto.

Kemudian saat mau melanjutkan pembangunan, saya lihat foto-fotonya juga tidak terlalu detail, tidak terlalu lengkap.

Sehingga saya rasa butuh untuk bikin video untuk mendokumentasikan tahapan-tahapan dalam proses pembangunan rumah ini.

Gunanya itu selain untuk dokumentasi pribadi juga untuk bahan belajar.

Karena kita juga bukan orang yang kesehariannya di bidang bangunan, maka hal-hal semacam ini kita pelajari dari lapangan. Dari proses dari ngobrol dengan teman, dengan saudara, dengan pak tukang. Diskusi dengan siapapun yang mengerti tentang bangunan.

Karena saya juga punya ketertarikan, maka saya putuskan untuk membuat dokumentasinya ini.

Nanti insya Allah dalam banyak seri yang kita publish di YouTube.

Semoga bisa menginspirasi teman-teman yang mungkin sedang berjuang juga sama seperti kami. Sedang berusaha untuk bisa bangun rumah atau punya rumah sendiri.

Jadi rumah ini memiliki ukuran lebar 8,5 m, panjangnya ke belakang itu 17,5 meter.

Rencananya setelah rumah ini jadi, di bagian belakang ada space untuk garasi kendaraan.

Nah, yang kami lakukan pertama kali pada waktu mulai membangun rumah itu adalah menyiapkan sumber air.

Karena disini lokasinya sawah ya. Jadi kita perlu menyiapkan sumber air untuk kegiatan ini.

Maka pada waktu itu yang pertama kali saya pesan adalah membuat sumur.

Membuat Sumur
Membuat Sumur

Namun pada akhirnya setelah sumur ini jadi, bersamaan dengan itu saudara saya yang ada di sebelah ternyata juga sedang membuat sumur artesis.

Sumur tersebut bisa mengeluarkan air tanpa harus dipompa, dan kita diberikan akses melalui kran. Sehingga sudah nggak perlu memompa lagi.

Semoga itu bisa jadi salah satu amal Beliau telah membantu kami dalam proses ini.

Setelah menyiapkan air, kemudian kami berdiskusi. Apakah akan membuat pondasi dengan batu kali atau ada ide lain.

Akhirnya muncul ide untuk membuat pondasi dari batako.

Apakah nanti akan kuat batako ini dipakai untuk pondasi rumah 2 lantai ?

Dari pengalaman tukang yang kami ajak diskusi pada waktu itu, Beliau pernah mengerjakan bangunan rumah sakit baru yang cukup besar di daerah Kertosono, yaitu  RSUD Kertosono.

Menurutnya, disana juga memakai pondasi dari batako. Tapi paling bawah itu langsung diberikan sloof.

Jadi sebelum sebelum dipasang batako, di bagian paling bawah itu sudah ada betonnya, ada rangkaian besi sloof nya. Selain itu juga menggunakan foot plate atau cakar ayam.

Paling bawah di bor pakai strose, kemudian diatasnya dibuat footplate, lalu  di atasnya footplate baru diberikan sloof untuk mengikat semua kolom-kolom yang ada di pondasi ini.

Sehingga seluruh kolom yang ada di pondasi ini terikat menyatu sejak dari bawah di dalam tanah.

Setelah paling dasar diberi beton sloof, baru atasnya disusun batako, kemudian di permukaan pondasi atau pada lantai dasar rumah itu diberikan sloof lagi. Sehingga ini akan cukup kuat, istilahnya double sloof.

Bagi para developer perumahan mungkin teknik ini akan cukup boros. Namun karena ini rumah pribadi bukan untuk dijual lagi, jadi kita upayakan kualitas yang maksimal.

Kita memakai besi SNI ukuran 12mm.

Jadi kalau di toko bangunan sekitar sini, dijual besi 12mm yang non SNI dan ada juga yang SNI, atau istilahnya 12mm Full.

Jadi kalau besi SNI 12mm, maka diameternya ya betul-betul 12mm. Namun karena sudah 3 tahun tidak dikerjakan, sudah muncul banyak karat.

Saran saya bagi teman-teman yang mungkin juga sempat mengalami hambatan dalam membangun rumah. Atau mungkin membangun rumah secara bertahap (nyicil), sebaiknya besi yang sudah terpasang diberi lapisan semen, agar tidak terlalu berkarat.

Resikonya kalau besi konstruksi bangunan berkarat bisa mengikis ketebalan besi itu.

Ukurannya yang tadinya 12mm full, akan tergerus sehingga lebih kecil.

Jika diberikan perlindungan lapisan semen (bisa memakai sisa semen) ke besinya, itu akan cukup membantu mencegah dari korosi.

Sebetulnya pondasi rumah ini belum 100% selesai. Sehingga kita mau bereskan ini dulu.

Kemarin kita sudah mencetak tambahan sekitar 1.200an batako. Namun untuk menyelesaikan pondasi ini setidaknya kita butuh 2.000 batako lagi dengan ukuran yang cukup besar, yaitu 40x20x10 cm.

Kenapa kita bikin batako sendiri? Ini untuk memastikan kualitasnya.

Untuk membuat batako, kita memakai campuran agregat 1 : 6 (1 semen, 6 pasir).

Setelah pondasi rumah nanti selesai, baru dilanjutkan dengan pembesian. Baik sloof maupun kolom.

Sehingga akan ada banyak hal yang menurut saya penting untuk didokumentasikan.

Karena setelah rumah jadi, tidak akan terlihat lagi bagaimana bagian dalam atau konstruksinya dulu pada waktu dibikin.

Bagaimana keadaan sebelum rumah itu jadi dan bagaimana kualitasnya?

Maka, jika ada dokumentasi akan banyak manfaat.

Bisa jadi bahan evaluasi kedepan untuk belajar, dan juga jadi motivasi bahwa kalau seandainya dalam episode kehidupan ini kita pernah mengalami hambatan. Karena dibalik hambatan, kita juga pernah mengalami kemudahan, rezeki yang lancar, dsb.

Sehingga dengan dokumentasi yang baik, kita bisa flashback agar tetap bersemangat dalam berusaha.

Leave a Comment